Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Juni 2021

Cerita tentang asmoro wedho


Sayup-sayup ada yang memutar lagu jawa bergenre kidung, sedikit asing dengan bahasanya karena ternyata menggunakan bahasa Jawa tingkat tinggi atau boleh dikata bahasa jawa kuno (tua).

Lagu... eh kidung yang mengandung makna yang dalam ini berjudul ASMORO WEDHO.

Berikut lirik tembang Asmoro Wedho dan terjemahannya. 

ASMORO WEDHO

Cipt. Sri Narendra Kalaseba

terjemahannya. 

Werdi suksmo Rehing tresno, gegambaran suwargoluko

(Rahasia jiwa Ungkapan cinta adalah lukisan keindahan syurga)

Prapti suci Wosing ati, siro yayi kang den anti

(Demi pengabdian tulusku, wahai muara hatiku, hanya dirimu yang kutunggu)

Mukso wuyung datan lewung, sorot siro kang pinunjul

(Hilang penderitaan mustahil di kehampaan karena cahayamu selalu memancar)

Duh Gusti moho Mukti, sun suwiji mring sejati

(Wahai Tuha yang Maha Mulia biarlah aku hidup bersama dia selama-lamany)

Reff :

Sekaring sunyo ngombak rogo, endahing siro kang sun roso

(Ketika bunga-bunga kesunyian bergelombang di ragaku, Hanaya keindahanmu yang melebur didalam rasaku)

Asmoro wedho wohing janji, Duh garbaning sun kang ginowo pesti

(Sastra asmara wedha ini janjiku wahai yang berada dipusara kehidupamku ketahuilah bahwa engkau sudah ditakdirkan untukku.




Continue Reading...

Minggu, 30 Januari 2011

Menulis Gaya Gado-gado

Menulis itu ternyata mudah melakukannya, semudah membalik telapak tangan.
Hanya menuangkan apa yang ada di pikiranmu menjadi sebuah tulisan, baik buruk adalah tergantung selera pembaca, nggak dibaca pun tak masalah, yang penting segala uneg-uneg dipikiran tersalurkan, apapun itu.

Biarkan semua mengalir seperti air bening dilereng bukit
Membelah...menyibak ...menyusuri hutan pinus
Menyibak segala aral yang ada..
Jika manusia menerimanya maka ia akan menempatkan pada gerabah emasnya
Jika tidak diterimapun ...masih ada parit yang menerima untuk menyalurkannya ke sawah karena kemanapun air itu mengalir pasti akan diterima.

Jadikanlah tulisanmu laksana air
Keluarkan dan tuangkan dengan apapun medianya.
Dengan bahasamu sendiri
Dengan logatmu sendiri
Dimanapun kamu berada...dengan suara apapun yang ada dipikiranmu
Biarkan ia menjadi gado-gado
Biarkan ia menjadi bala-bala
Biarkan ia menjadi kethoprak
Biarkan ia menjadi sampah
Karena pemulung masih juga menanti kedatanganmu.

Waktu akan berlari sangat cepat
Jangan biarkan kamu tertinggal
Dimanapun kamu hadir....tuangkanlah...berilah dan ciptalah sebuah tulisan meskipun hanya satu episode.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Continue Reading...

Selasa, 19 Oktober 2010

Episode Kerinduan


SARTONO pemuda lulusan pesantren itu masih termenung di pusara Bapaknya. Kepergian Bapaknya tiga bulan yang lalu telah menguras banyak air mata. Sampai saat inipun dia masih belum bisa banyak berucap seperti waktu Bapaknya masih hidup. Kesedihan yang sangat mendalam telah mengunci segala keriangan dan kesenangannya terhadap sesuatu. Dia merasa bahwa selama ini waktunya telah dihabiskan tanpa banyak berkumpul dengan Bapak-nya. Meninggalkan Bapaknya dalam kesendirian di sebuah rumah yang telah ditinggalkan anak satu-satunya.

Menjelang Maghrib, SARTONO bangkit dan diusapnya pusara sang Bapak, dengan langkah gontai perlahan-lahan dia meninggalkan makam yang gundukannya sudah mulai memudar. Kain sarungnya dibiarkan dilekati tanah kuburan yang melekat seperti lem sejak bada’ ashar tadi. Areal pekuburan senja itu memang sepi, sebab hari itu bukan Jum’at Kliwon yang sering ramai dikunjungi para peziarah. Hanya gemerisik daun-daun pohon kamboja yang diterpa angin dan suara geluduk mendung yang memayungi yang semakin menempatkan sepi yang teramat sangat di hati SARTONO.

Iqomat telah selesai, tiba-tiba kedua lengan SARTONO ada yang mengangkat untuk segera berdiri. SARTONO perlahan tersadar, dari sudut matanya yang berkaca-kaca dilihatnya Pak KYAI IKSAN menyuruhnya untuk menjadi imam sholat maghrib. Dengan gontai SARTONO melangkah ke mighrab. Sejenak menoleh ke belakang dilihatnya kaki-kai shof jama’ah. Tabirotul ikhrom-nya begitu lirih, Alfatehahnya dan suratnya juga lirih tenggelam dalam sesenggukan isak tangisnya.

Interval maghrib dan isya SARTONO tidak juga bangkit dari muhola. KYAI IKSAN yang sudah sepuh hanya memandangi penuh keheranan. Ditepuknya bahu SARTONO.

“Nak, begitu dalamkah kesedihan mu?”

SARTONO memandang wajah KYAI IKSAN yang teduh itu tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Selanjutnya KYAI IKSAN duduk dihadapan SARTONO, mereka kemudian duduk berhadap-hadapan. Dengan lirih KYAI IKSAN berkata :

“Kehidupan adalah bukan milik manusia, tugas kita hanya untuk menerima dan mengelola”

SARTONO masih terdiam dia menundukkan matanya dari sejenak memandang wajah kyainya itu. Selanjutnya KYAI IKSAN melanjutkan kata-katanya:

“Pernahkan kita meminta untuk dilahirkan…lalu besar...dewasa dan tua..lalu mengapa kematian harus ditangisi sebegitu rupa,

sampai kau lupa tangismu yang disholat itu bukan untuk mengingat salah dan kematianmu kelak…tapi keegoisanmu tidak mau

menerima kematian…”

SARTONO tersentak, ditatapnya kembali wajah KYAI IKSAN. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.

“Ta ta ta pi…saya ingin melihat Bapak sampai setua Pak Kyai…sa sa sa ya masih rindu Kyai untuk terus bersamanya. Saya ingin

bahu membahu dengan Bapak untuk membagun dakwah. Dan saya ingin menikmati masa tua Bapak dengan saya yang

memeliharanya Pak Kyai.

KYAI IKSAN bangkit, Wajah SARTONO mengikuti gerak badan KYAI IKSAN yang berdiri dan kemudian melangkah.

“NAK, hidup adalah ukuran. Kita ada ditengah-tengah ukuran dan maqom kita. Ukuran adalah skenario yang harus kita jalani dan

maqom adalah bekal kita untuk menjalani scenario itu. Perpisahan dan kematian adalah bagian dari skenario. Maqom-mu yang

sudah terlatih dengan banyak membaca Qur’an dan Khadist di pesantren sudah barang tentu kuat untuk menghadapi semua itu.

Lakukanlah apa yang dipesan oleh nabi perbanyaklah do’a buat Bapakmu, Madrasah yang telah beliau bikin kelolalah dengan

baik. Itu sudah cukup untuk membasuh kerinduanmu terhadap Bapakmu.

SARTONO yang berdiri dibelakang KYAI IKSAN tersadar. Kakinya dilangkahkan tangannya dijulurkan meraih tangan KYAI IKSAN. Di ciumnya tangan Kyai kharismatik tersebut. Bibirnya bergetar, air matanya membasahai tangan Sang Kyai.

“Benar Pak Kyai,..saya lupa..saya malah telah membebani BAPAK saya dengan kerinduan saya yang jahiliyah ini…MASYA

ALLAH….ASTAGHFIRULLOH HALADZIM…”

Dipeluknya badan SARTONO oleh KYAI IKSAN…seiring jam dinding di MUSHOLA yang telah menunjukan waktu ISYA.

Jakarta 19 Oktober 2010

By

M. Husni Iskandar





Bagikan
Top Blogs

Continue Reading...

Sabtu, 18 September 2010

Ketika Pujangga Bercinta


Di pagi hari di bulan September terjadilah obrolan dua orang pujangga melalui SMS dan Instant Mesenger, berikut petikannya : ( sesuai dengan diberikan oleh temanku)

( Wanita / W ) 8:04 am = Pagi !!! Semoga hari ini lebih indah dari hari kemarin....tersenyumlah...maka dunia akan tersenyum padamu.

( Pria / P ) 8:05 am = Pagi juga...."terimakasih"...hanya itu yang bisa aku ucapkan tuk pijarkan suasana pagi ini...

( w )8:26 am = Pagi ini mendung...semoga akan tersapu dengan kehangatan mentari...seperti hangatnya tubuhmu memeluk aku...qiqiqi....

( p )8:29 am = Habis kata tuk ungkapkan rasa...hanya degup jantung yang getarkan jiwa

( w )8:44 am = Jika hanya itu yang terdengar...ijinkan ku rebah di dadamu...degup jantungmu mendendangkan nada-nada cinta yang menghanyutkan sanubari...

( p )8:46 am = Rebahlah dan rasakan melodi ini...yang menghantar pada kedamaian asa...

( w )8:59 am = Biarkan asa melayang jauh...membawa mimpi-mimpi indah dalam rengkuhanmu...

( p )9:20 am = Lukislah dan bingkaikan dalam sisi ruang yang penuh dengan wangi bunga...meniti mengharumkan biduk ... kala senja mulai temaram...

( w )9:27 am = Sungguh ... tak bisa ku lukiskan perasaan ini lewat goresan pena emas diatas kanvas...ku bukan pujanggan yang bisa menautkan kata demi kata menjadi syair indah...tapi ku tahu perasaan ini nyata...senyata dinginnya es atau panasnya api...

( p )9:37 am = Bentangkan melati tuk jadikan kanvas...tautkan nada jadikan irama...dawai damai mengalun syahdu saat hati ada disini....didekat sini...

( w )9:42 am = Biarkan bibir terkatup dalam diam..namun hati kita yang saling bicara...biarlah hanya angan yang melayang jauh meski raga masih berada di tempatnya...kita kan menjadi satu jiwa, satu nafas dan biarlah tetap seperti ini...

( p )9:50 am = isi hati kan terpancar saat rasa saling berpagut...angin kan membawa cerita...tentang cita dan cinta...jiwa dan nafas akan menyatu dalam diam...dan biarkan rasa ini yang berbicara...

( w )9:54 am = ku nggak bisa merangkai kata...kuakui kekalahanku...

( p )10:06 am = kita adalah rasa, saat kata sudah tak mampu mewakili rasa...maka dalam diampun rasa akan berbicara...hati kan berbicara dengan bahasa hati...

( w )10:13 am = jikalau hati sudah berbicara....biarkan semua mengalir seperti aliran sungai yang bermuara di laut berapapun jauhnya..berkilo-kilometer di tempuh hanya untuk bersatu dengan lautan lepas...lepaskan segala hasrat yang terpendam...karena kita akan bersatu diujung penantian...

( p )10:25 am = senja akan semakin temaram...bayang keraguan akan makin pupus...penantian pasti kan berujung...pelita kan menghangati dinginnya jiwa...dalam singgasana elegi esok...

( w )10:45 am = kapan penantian ini akan berujung ? yakinlah akan berujung, meski harus menanti hingga ujung waktu...

( p )11:10 am = Kepak merpati akan datang...seiring berganti hari untuk membangun sarang dalam kedamaian...meski jauh jarak yang harus ianya arungi..

( w )11:15 am = merpati pulang membangun sarang..beratapkan cinta..berdindingkan cinta...meski tak berhias intan permata, namun tak kekurangan suatu apapun...krn penuh dengan cinta bersama kekasih setia...sang merpati tak akan pergi...

( p )11:22 am = untuk itu ianya harus diikat dengan...nuansa biru..agar sentiasa merajut tali untuk merenda hari esok...

( w ) 11:28 am = ikatlah dengan cinta...rengkuhlah dengan cinta..peluklah dengan cinta..setubuhi dengan cinta...

( p ) 11:42 am = Cinta akan membawamu...terbang bersama dekapan kasih...mengukir cinta dengan berjuta pesonanya...

( w ) 11:51 am = datanglah kasih...bersamamu kutemukan bahagia

( p ) 12:18 am = ku kan datang meski hujan menghiasi, cinta kan mengiringi deng kehangatan...sayapnya kan merengkuh...melumat...memagut dalam damainya...

( w ) 12:33 am = datangmu aku tunggu...meski raga tak lagi bersatu dengan jiwa...cerita ini tak akan pernah berakhir...kan selalu ada dalam ruh ku...menanti kepak sayap menjemputku...menuju singgasana cinta dalam rengkuhan-Nya...

( p ) 1:40 pm = Kepak sayap kan terus berkibar...mengabarkan berita akan datangnya hari itu...saat bertemunya dua jiwa dalam rengkuhan-Nya...

( w ) 1:50 pm = dua hati...dua jiwa...dua tubuh...akan bersatu dalam indahnya pagi...burung-burung bernyanyi...bunga-bunga bermekaran, ikut menghiasi hari nan syahdu...langit dan bumi jadi saksinya...betapa suci cinta kita....

( p ) 1:54 pm = embun kan memeluk dan menyatukan raga dalam kehangatan pagi...ditingkah indah laras oleh sepoi semilir di heningnya kalam...

( w ) 2:01 pm = ku sudah tak mampu berkata-kata...ucapanmu membuatku melayang jauh menembus langit ketujuh...

( p ) 2:13 pm = terbanglah...terbanglah setinggi dan sejauh alam maya....rasakan dan tak perlu di ucap...ku kan gamit lenganmu sampai di ketinggian nirwana....

Sampai disini sang Pria tidak mau membagikan terusan percakapannya...karena ia ada tugas mendadak....jadi mungkin akan diteruskan nanti-nanti kalau aku ketemu sama dia lagi.....

Bagikan
Top Blogs

Continue Reading...

Jumat, 10 September 2010

Kumpulan ucapan Hari Raya Idul Fitri 1431 H lewat SMS



Terselip khilaf dalam canda...
tergores luka dalam tawa....
terbelit pilu dalam tingkah....
tersinggung rasa dalam bicara....
mari kita saling maaf-memaafkan
selamat hari raya idul fitri
minal aidzin wal faidzin taqoballahu mina wa minkum
taqoballahu ya karim
mohon maaf lahir dan bathin
semoga kita tetap dalam "satu jembatan, satu doa & satu tujuan dalam menuju ridho Allah...amin
pengirim : 08137258xxxx

Assalamu'alaikum wr wb

Hati menangis karena kepergian Ramadhan yang mulia

Berganti pagi syawal yang fitri dengan gema takbir Allahu Akbar membahana beriring syukur kepada Allah swt.
Untuk afdalnya, tiada kata yang lebih baik diucapkan kepada keluarga, saudara, sahabat, tetangga dan kaum muslimin semua di seluruh penjuru tanah air semua selain ucapan Taqabballahu minna wa minkum, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H minal aidzin wak faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.
pengirim : 0812703xxxx

Waktu berjalan tiada terasa dosa menumpuk tiada terkira.
dikala wajah tiada bertatap dan dikala tangan tiada berjabat
hanya kata-kata pewakil "MAAF"
Selamat hari raya idul fitri 1431H
penigrim : 08136481xxxx

Ego lahir sudah patah !
Menang sudah diraih !
Namun, jalan masih panjang...
Agar sang diri terus merdeka,
berilah maaf yang putih
berilah maaf yang ikhlas,
berilah maaf yang fitri,
mohon maaf lahir dan bathin
pengirim : 0812774xxxx

landung panyaur nu mawur
laer gawe nut hade kepat langkah nincak dina salah asa
malangsa niban raga pinuh ku dosa
pamundut nu kapihatur ligar manah ku kaikhlasan
tiasa ngalubarkeun tina sanes kanten kalepatan
wilujeng boboran syiam neda dihapunteun samudaya kalepatan lahir sinareng bathin
pengirim : 08522319xxxx

saat batin rindukan keikhlasan maaf
dan jemari tak mampu berjabat
hanya lewat pesan ini jariku bersilaturahmi
minal aidzin wal faidzin
mohon maaf lahir dan bathin.
pengirim : 08522123xxxx
Bagikan
Top Blogs

Continue Reading...

Senin, 30 Agustus 2010

Hilang Dalam Terang


Bersama percik melati suci, mengiringi duka dalam kepergian seorang sahabat
Seirama untaian do’a dalam dada, semoga kebahagiaan selalu menaungimu
Saat-saat kubaca pesan lintas dimensi darimu adalah saat ribuan jarum, menancap, mengoyak jiwa dari damai, aku tak tahu, ranting apa yang tlah kuinjak, hingga lembaran hidupku harus ada kilasan namamu.
Meski hanya sebuah drama separo adegan, namun tikaman dan hujaman pedang darimu, merontokan sendi-sendi alunan nada.

Apakah aku terlalu congkak tuk sekedar bercermin ataukah kamu yang terlalu pemalu tuk mendengar rendevouz kebenaran, yah....dalam sejarah hidupku, pantang menggunting dalam lipatan apalgi menohok kawan seiring namun meerdu kicauanmu membuatku malu pada bayanganku.

Sobat...sebelum aku pergi, sirna bersama embun pagi, bersediakah hatimu tuk sekedar mendengar pujian kebenaran, yang harus diluruskan, agar belitan tali merah persahabatan kembali terurai, namun bila itu terlalu berat untuk di titi...barlah...kebenaran hancur oleh kepongahan merdu pipit suaramu.

Akhirnya percikan embun di lembah sunyi mengantarku pada hakikat persahabatan yang semestinya, kudoakan semoga kau bergembira sepanjang hari.
Meski kusamnya cceermin di telapak tanganmu.

Batam, 22 Dzulhijah 1423 H / 24 februari 2003 H

Bagikan

Top Blogs

Continue Reading...
 

cerita dari pulau Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template